Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2016

Tradisi Mencuri Istri dan Suami Orang dari Suku Wodaabe

Selain dikenal dengan piramida, Sungai Nil, dan gurun pasirnya. Kawasan Afrika juga dikenal memiliki suku yang sangat unik. Setiap suku yang tinggal di kawasan guru memiliki tradisi yang nyentrik hingga kalau orang lain melihatnya jadi terkesan aneh. Namun, bagi suku yang ada di sini, kebudayaan itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan merupakan bagian dari adat yang tidak bisa ditinggalkan.

Salah satu suku di Afrika yang dikenal sangat nyentrik adalah Suku Wodaabe. Jika di kebanyakan suku, wanitalah yang akan berdandan dengan cantik. Di suku ini, pria lebih banyak menghabiskan hari dengan berdandan dan merias wajahnya. Mendapatkan pria tanpa cermin di suku adalah hal paling susah.

Selain memiliki tradisi merias diri bagi kaum prianya, suku ini juga memiliki tradisi yang cukup unik. Pada akhir tahun, mereka kerap mengadakan semacam upacara untuk mencuri istri orang lain yang mereka sukai. Berikut kisah tentang tradisi yang hanya ada di daratan Afrika.

Sekelumit Kisah tentang Suku Wodaabe

Suku Wodaabe bukanlah suku yang menetap di satu tempat lalu membentuk koloninya hingga besar. Suku ini nomaden dan kerap melakukan perjalanan dari pesisir timur ke pesisir barat Afrika. Mereka melintasi cukup banyak negara seperti Niger, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, dan Nigeria.


Sepanjang tahun, mereka akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan lahan yang nyaman. Mereka akan membangun rumah tidak permanen jika sudah menemukan kawasan untuk berladang dan berburu. Kalau kawasan itu sudah dianggap tidak berpotensi lagi, mereka akan pergi dan menjelajah lagi.

Tradisi Pemilihan Pria Terbaik di Dalam Suku

Kalau di dunia manusia milenia modern banyak even pageant untuk menentukan siapa yang tercantik dan tertampan. Di suku ini, hal yang sama juga kerap dilakukan. Biasanya setiap bulan September ke belakang, tradisi pemilihan pria terbaik dari suku akan dilakukan dan siapa saja yang menang akan mendapatkan hadiah yang besar.


Pria dalam suku ini yang dianggap sudah dewasa boleh berpartisipasi meski dia sudah menikah dan punya anak. Mereka diwajibkan berdandan selama 6 jam dan membuat wajahnya tampan sesuai dengan versi suku ini. Setelah dandan dan berpakaian selesai, mereka akan diperkenankan melakukan pertunjukan berupa tarian dan nyanyian hingga tiga gadis yang menjadi juri menyatakan siapa pemenangnya.

Pencurian Istri atau Suami yang Unik

Siapa saja yang memenangkan acara tradisi ini memiliki hak untuk memilih wanita yang diinginkan. Meski wanita itu istri dari orang lain, dia berhak mengambilnya dan dianggap wajar. Suami yang ditinggalkan tidak bisa apa-apa karena kalah dalam even adu ketampanan atau tidak ikut sama sekali.


Oh ya, selain pria diperbolehkan mencuri istri orang lain. Pihak wanita juga boleh mencuri suami orang lain. Wanita yang dianggap paling cantik boleh meminta siapa saja jadi suaminya. Seorang wanita di suku ini bisa memiliki lebih dari satu suami kalau dia memang suka. Jadi, menjadi paling cantik atau tampan di suku ini adalah hal paling penting.

Wanita Adalah Penguasa dari Suku

Meski kaum wanita tidak berdandan dan hanya menato wajahnya, mereka tetaplah yang terbaik. Para pria akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan mereka. Oh ya, wanita di suku ini bisa melakukan hubungan seks dengan pria mana saja yang dia mau. Bahkan sebelum menikah dia boleh melakukannya dengan terang-terangan.


Wanita di dalam suku ini memiliki supremasi dalam hal hubungan badan. Dia bisa memilih pria mana saja yang dianggapnya terbaik dan dijadikan ayah dari anak-anaknya. Meski wanita memiliki supremasi dalam hal hubungan, pria tetap bisa berusaha dan inilah yang jadi keunikan dari suku ini.


Sumber :

Sabtu, 22 Oktober 2016

Unik, Terowongan Gaza Bekas Konflik Kini Jadi Objek Wisata

Objek wisata memang tak melulu terbatas pada keindahan alam saja seperti gunung, pantai, atau padang pasir, serta fenomena-fenomena unik misalnya lubang api abadi yang disebut sebagai Door to Hell di Turkmenistan. Ada juga objek wisata buatan manusia seperti tempat rekreasi maupun wisata-wisata sejarah dan budaya.

Nah, yang tak kalah menarik, ada juga objek wisata yang dulunya merupakan saksi bisu dari sebuah kejadian besar, seperti bencana alam atau perang. Tengok saja Museum Gunung Merapi di Sleman yang menyimpan benda-benda sisa letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Museum ini juga terkenal karena menyimpan beberapa benda pribadi miliki sang juru kunci yang melegenda, Mbah Maridjan.

Lain lagi dengan di Sleman, di Israel ada sebuah terowongan bawah tanah saksi peperangan yang dijadikan objek wisata. Hmm, seperti apa keunikannya? Simak informasinya berikut ini:

1. Terowongan ini saksi dari Operation Protective Edge

Operation Protective Edge atau disebut juga dengan Miv’tza Tzuk Eitan dalam bahasa Hebrew, merupaka sebuah operasi militer yang dilakukan oleh Israel pada tanggal 8 Juli 2014 di Gaza. Operasi militer ini dilakukan untuk melindungi warga sipil dari serangan roket yang diluncurkan untuk menghancurkan kota-kota dan bangunan di Israel. Operasi militer ini sendiri berlangsung selama 7 minggu dan berakhir pada tanggal 26 Agustus 2014.

Musuh juga menargetkan untuk melakukan invasi di Gaza dan ingin menghancurkan sistem terowongan bawah tanah di Gaza. Pada masa operasi ini, diluncurkan banyak sekali roket dan mortar, hingga berjumlah 4.564 buah yang sebagian besar menghancurkan tanah kosong di Gaza.

2. Kondisi terowongan masih utuh dan cukup baik

Setelah konflik yang terjadi pada tahun 2014 itu berakhir, kondisi terowongan yang digunakan Hamas untuk mempertahankan diri masih cukup baik. Meski banyak korban meninggal dari Operation Protective Edge dan banyak bangunan yang hancur, namun terowongan itu sendiri masih kokoh dan bisa digunakan untuk melakukan perjalanan maupun melindungi diri.

Dalam sebuah video yang diunggah ke lama Facebook Daily Mail, diperlihatkan bahwa kondisi terowongan tersebut masih cukup baik. Apalagi setelah konflik panas usai, terowongan tersebut dibersihkan dan diberikan penerangan yang cukup sehingga bisa dimasuki.

3. Hamas menjadikan Gaza Tunnel sebagai objek wisata

Jika dulunya terowongan-terowongan bawah tanah semacam ini dirahasiakan, kini Hamas justru membukanya untuk publik. Ya, terowongan tersebut dibuka untuk para turis lokal yang ingin mengetahui seperti apa lokasi persembunyian serta penyelundupan senjata yang digunakan Hamas selama masa konflik.

Menjadikan terowongan bawah tanah ini sebagai objek wisata sebenarnya merupakan bagian dari program yang dibuat Hamas untuk memberikan edukasi kepada warga sipil mengenai peperangan dan persenjataan. Hamas juga mengadakan summer camp alias perkemahan musim panas untuk anak-anak dan membiarkan mereka menelusuri terowongan bawah tanah Gaza.

4. Yang unik dari terowongan bawah tanah Gaza

Jangan dibayangkan terowongan bawah tanah ini gelap, pengap, serta menyeramkan. Terowongan ini sudah disulap sedemikian rupa dan diberikan penerangan yang memadai sehingga cukup nyaman untuk dilewati. Bahkan, di bagian dalam terowongon, tepatnya di sepanjang dindingnya, dipasang foto-foto para pejuang Hamas yang sebagian besar tewas dalam konflik yang terjadi 2 tahun silam.

Terowongan ini sekaligus menjadi saksi sejarah dan juga tur unik bagi warga lokal. Belum dijelaskan apakah turis mancanegara juga diperbolehkan mengunjungi objek wisata baru ini. Tapi yang jelas, saat ini Hamas masih berfokus pada program lokal terutama untuk menarik antusiasme anak-anak.

5. Objek wisata serupa di Vietnam

Tak perlu jauh-jauh ke Israel untuk merasakan wisata di dalam terowongan saksi perang, negara di Asia seperti Vietnam ternyata juga punya objek wisata serupa salah satunya seperti yang ada di desa Chu Chi. Di desa ini, ada sebuah terowongan bawah tanah yang menjadi saksi perjuangan para Vietcong dalam melawan tentara Amerika pada peperangan yang berlangsung selama 1959 hingga 1975.

Terowongan ini menjadi saksi sejarah kelam perjuangan rakyat Vietnam dan juga memberikan kisah pilu dari banyaknya warga sipil yang turut menjadi korban dalam peperangan. Kini terowongan ini dibuka untuk umum termasuk bagi para turis mancanegara, dan banyak penduduk lokal yang beralih profesi menjadi pemandu wisata. Lokasi ini menjadi salah satu daya tarik utama dari Desa Chu Chi yang selalu menjadi tujuan wisatawan saat berkunjung ke sana.
Di Indonesia sendiri juga terdapat beberapa terowongan yang pernah menjadi saksi sejarah peperangan. Namun sebagian besar terowongan ini merupakan jalur kereta api seperti salah satunya yang terdapat di antara Purwakarta dan Padalarang. Terowongan yang disebut dengan nama Sasaksaat ini dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1900-an. Terowongan ini memiliki panjang 949 meter dan masih bisa digunakan hingga sekarang.

Memang selalu menarik menelusuri bangunan bersejarah dan mengulik kisah di baliknya. Di daerah Anda sendiri, apakah juga ada bangunan sisa perang yang kini dijadikan objek wisata?

Sumber :
http://travelingyuk.com/terowongan-gaza/